Selasa, 07 Mei 2013

Melukis Tak Sekedar Keterampilan Tapi Soal Pengolahan Keindahan

Melukis Tak Sekedar Keterampilan Tapi Soal Pengolahan Keindahan
Melukis Tak Sekedar Keterampilan Tapi Soal Pengolahan Keindahan - Untuk menjadi seorang pelukis, dibeberapa titik, tidak lagi mengenai keterampilan untuk menulis keindahan. Lebih dari komposisi hanya keindahan, seni itu adalah soal tema pengolahan dan advokasi. Lantas, apakah tema yang personal, sosial, politik, atau budaya, itu adalah pintu menuju ide advokasi, atau pandangan hidup, atau sikap politik, untuk artistik. Hal ini pada titik ini adalah mengenai kita dapat melihat kematangan artistic pelukis, ide-ide dalam menemukan dan pengolahan metafora, apakah ia telah berhasil mencapai tingkat luhur, atau dia masih pada tingkat dasar itu.

Dalam dunia seni lukis contemporary, Rahmat Subani Irfani, dalam jangka pendek karirnya (ia lahir di Solo, Jawa Tengah, pada tanggal 11 Februari 1949, dan meninggal di Jakarta pada 18 Mei 2003), telah menunjukkan proses kreatif yang ditandai dengan perjuangan intens dan ketegangan untuk mendapatkan melampaui visual. Mengamati karya-karyanya, terutama antara tahun 1990-an dan 2000, kita akan dapat melihat kompleksitas dan ketegangan. Pada awalnya ia mengambil untuk render realis benda dan membuat mereka simbolis konfigurasi. Misalnya, ia menggambarkan topeng, apel, jam tangan, kayu, dan wajah perempuan muda, yang ia terdiri atas kanvas, untuk menjadi mosaik narasi simbolik. Dalam karya tersebut tidak ada persatuan antara pesan yang dia inginkan dan metafora yang ia gunakan untuk membawa ke seberang.

Karya Rahmat Subani pun saat ini dapat dinikmati di beberapa gallery lukisan, sepertihalnya dahulu dia sempat memeriahkan Indonesian contemporary art gallery di Edwin’s Gallery Jakarta. Eksplorasinya akan seni, kecantikan,dan kegelapan merupakan hal yang menarik dan mampu memberikan kesan mistis yang elegan.
Load disqus comments

0 komentar