Selasa, 04 Desember 2012

Terra Nullius, Salah Satu Tema Lukisan Di Edwin’s Gallery

Terra Nullius, Salah Satu Tema Lukisan Di Edwin’s Gallery
Terra Nullius, Salah Satu Tema Lukisan Di Edwin’s Gallery - Berbagai lukisan dan karya seni lain beraliran contemporary pernah digelar di Edwin’s Gallery. Mengingat disana merupakan salah satu tempat bagi anda pecinta seni untuk dapat menikmati contemporary art, selain itu ada berbagai tema yang dapat ditemui di galeri itu. Misalnya saja salah satu karya pelukis Indonesia kita, Heri Dono.

Mengusung tema lukisan karya Heri Dono yang dipamerkan dalam pameran bertajuk Nobody’s Land yang sempat diadakan di Edwin’s Indonesian Contemporary Art Gallery. Sebagai salah satu contemporary art, karya-karya Hedi Dono itu merupakan wujud eksplorasi tema tentang terra nullius. Secara harafiah, frase Latin tersebut dapat diterjemahkan sebagai “tanah tak bertuan”. Pada abad ke-16 dan ke-17, ketika bangsa Eropa sedang gencar-gencarnya mengeksplorasi tanah-tanah jajahan, konsep geopolitik ini memberikan semacam pengesahan akan penindasan dan kolonialisme. Bangsa Eropa merasa mereka adalah bangsa yang paling beradab, dan di luar sana banyak tanah-tanah yang tak bertuan, yang dimukimi oleh orang-orang yang tak beradab.

Terlebih dengan diluncurkannya thesis Charles Darwin yang berjudul On the Origins of Species pada tahun 1859, yang menyebutkan bahwa manusia berevolusi dari kera, kemudian timbul ide tentang “the civilising mission”. Ras Eropa, yang dikatakan paling tinggi tingkatanya dalam proses evolusioner manusia, merasa perlu untuk “mendidik” ras-ras lain yang lebih rendah tingkat evolusionernya, dalam hal ini, “yang lebih dekat dengan kera”. Hal inilah yang mengesahkan penindasan dan penjajahan bangsa Eropa akan “ras-ras inferior” lainnya. Tentu saja, kini kita mengetahui bahwa thesis ini hanyalah omong kosong.

Kembali lagi jika berbicara mengenai terra nullius yang ada di Edwin’s Indonesian Contemporary Art Gallery, tentu saja orang tidak dapat tidak untuk membicarakan Australia. Ranahnya begitu luas, dan dihuni orang-orang Aborigin, yang pada saat itu dianggap oleh para evolusionis sebagai ras yang paling rendah tingkatannya dalam perjalanan evolusioner manusia. Australia dianggap sebagai terra nullius sejati, surga bagi para kolonialis.

Namun demikian, pameran Nobody’s Land tidak secara spesifik dan melulu mengacu kepada isu-isu penjajahan Eropa. Konteks dan sudut pandangnya jauh lebih luas dan bersifat kekinian. Kendatipun kini kolonialisme telah dihapuskan, namun konsep terra nullius agaknya telah berubah bentuk ke dalam manifestasi yang kontemporer. Dalam karya-karya yang dipamerkan, dapat kita jumpai narasi-narasi tentang kehausan akan kuasa, keserakahan, dan keangkuhan, yang mana semua itu boleh jadi merupakan hasrat alamiah manusia. Lihat saja, misalnya, invasi Amerika Serikat di Irak, yang dengan begitu enaknya mengobok-obok negara Timur Tengah tersebut. Bukankah ini merupakan manifestasi nyata doktrin terra nullius kini? Isu-isu seperti inilah yang hendak diangkat oleh Heri pada pameran Nobody’s Land ini.
Load disqus comments

0 komentar